BiografiSemua Artikel

Mengenal dan Mengenang Jejak Ahmad Noeman Perancang Masjid Tanpa Kubah

Source : itb.ac.id

Ahmad Noeman salah satu tokoh Arsitektur Indonesia yang memiliki beberapa karya menakjubkan. Sekaligus yang mempelopori masjid tanpa kubah. Ia berasal dari Garut dan lahir 20 tahun sebelum Indonesia merdeka. Lahir dari seorang bapak yang tak kalah hebatnya, yaitu seorang pendiri Muhammadiyah Garut. Laki-laki kelahiran 10 Oktober ini memiliki julukan “Arsitek Seribu Masjid”. Hal ini dikarenakan ia mendedikasikan hidupnya untuk merancang beberapa masjid di Indonesia.

© mediaindonesia.com

Noeman pernah mengenyam pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Garut. Lalu, ia melanjutkan sekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Garut. Namun beberapa bulan kemudian, ia harus pindah ke MULO Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah Yogyakarta. Hal ini  karena sekolahnya di tutup pasca kemerdekaan. Setelah itu, ia melanjutkan ke jenjang berikutnya dengan mengambil jurusan Teknik Sipil di Universitas Indonesia di Bandung yang saat ini menjadi ITB. Noeman sempat meninggalkan kuliah dan bergabung dengan Corps Polisi Militer. Dua tahun berlalu menekuni karir militer, ia mendapat pangkat Letnan Dua. Lalu ia berhenti dari militer saat ia mendengar kabar bahwa di ITB membuka jurusan Arsitektur.

Masjid Salman ITB merupakan rancangan pertama selepas ia mendapat gelar Insinyur. Menurut data dari jurnal  milik UIN Sunan Gunung Jati Bandung gagasan dibangunnya masjid ini berawal dari beberapa civitas akademika ITB yang membentuk komunitas kecil bercirikan islam. Kehadiran masjid ini juga merupakan hal penting bagi perjalanan Arsitektur Masjid Indonesia. Masjid Salman dikenal sebagai salah satu Masjid Kontemporer di dunia yang tercantum dalam “The Most Contemporary Mosque in The World”.

Masjid Salman ITB ; ©radarcirebon.com

Selain itu, ternyata Masjid Salman ini juga pernah mengalami kontroversi hebat. Dan hal ini juga yang menyebabkan Ahmad Noeman menjadi terkenal. Kontroversi terjadi karena masjid ini tidak memiliki kubah. Masyarakat Indonesia menganggap masjid karya Noeman menghilangkan sebuah identitas masjid itu sendiri. Namun menurut Noeman sendiri kubah adalah bentuk struktur bukan identitas sebuah masjid, hal ini yang belum dipahami oleh masyarakat.

Baca juga :  Budi Pradono, Arsitektur yang Bersahabat dengan Alam

Karya menarik lainnya selain masjid tanpa tiang ini adalah Masjid Agung Akbar Surabaya, Masjid Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan, Masjid Al-Markaz Al-Islami di Sulawesi Selatan serta Masjid At-Tiin yang dibangun guna mengenang Tien Soeharto.

Foto Masjid Nasinal Al-Akbar Surabaya ; (c) masjidalakbar.or.id
Foto Masjid At-Tiin ; (c) situsbudaya.id

Ternyata karya seorang Magister di Kentucky Amerika Serikat tidak hanya melambung di pelosok negeri saja. Ia juga berkali-kali menjadi perancang masjid di luar negeri. Dilansir dari detik.com ia pernah merancang Masjid Syekh Yusuf di Afrika Selatan yang dibangun untuk menghargai jasa pahlawan Afrika yang berasal dari Indonesia. Kemudian Masjid Istiqlal Sarajevo untuk mengenang jasa Presiden Soeharto di Bosnia, Masjid Al-Fatih Australia pun juga hasil rancangan Arsitektur hebat ini. Dan yang paling mengejutkan adalah ia juga merancang mimbar Masjid Al-Aqsha Palestina. Ia merancang mimbar tersebut saat berusia 69 tahun. Tentu usia yang tidak lagi muda namun kreativitasnya tidak memandang usia.

Ternyata, dibalik rancangan beberapa masjid di Indonesia maupun luar negeri adalah sebagai media untuk berdakwah dan menyebarkan agama islam. Ia berdakwah melalui denah yang dibuat dengan kreativitas dan kecerdasan ilmu Arsitek yang ia miliki. Gerakan ini juga sebagai bentuk niat baiknya untuk memperkenalkan islam pada dunia.

Baca juga :  Beberapa Macam Rumah Adat dari Sulawesi Tenggara

Sepanjang hidupnya ia terus berinovasi untuk negeri. Jadi tak heran jika ia mendapat prestasi menarik di bidang Arsitektur maupun bidang lainnya. Ia telah mendirikan organisasi Ikatan Arsitek Indonesia dan mendirikan jasa konsultasi arsitektur bernama Biro Arsitektur Ahmad Noeman (BIRANO).

Ia juga menyandang beberapa penghargaan seperti Satyalencana Kebudayaan dari pemerintah dan penghargaan penulis Khat Sufi dari pemerintah Istanbul Turki. Serta penghargaan Age Khan Award karena karya Masjid Salman yang fenomenal itu. Noeman tidak hanya praktisi Arsitektur ia juga seorang penulis dengan karya The Mosque as A Community Development Centre.

Kini, namanya dikenang masyarakat luas. Melalui karyanya yang apik, gerakan dakwah keagamaan melalui dunia Arsitektur serta kontribusi ilmu di bidang Arsitektur yang dituang dalam bukunya. Masjid yang pernah ia rancang tetap memiliki banyak pengunjung, dikagumi banyak mata dan menjadi masjid yang memiliki simbol ikonik di Indonesia. Sekarang, merupakan kesempatan bagi kita semua untuk meneruskan perjuangan serta meneladani sikapnya sebagai bentuk rasa hormat kita karena perjuangannya.

2 pemikiran pada “Mengenal dan Mengenang Jejak Ahmad Noeman Perancang Masjid Tanpa Kubah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *