Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Jalan-Jalan ke Permukiman Zaman Majapahit di Trowulan

Di tahun 2020 ini, kehidupan terasa sangat maju. Teknologi sangat berkembang pesat dan membuat kehidupan bergaya modern. Lalu bagaimana dengan zaman dahulu ya? Pernahkah kamu memiliki keinginan untuk hidup di zaman kerajaan? Atau kamu ingin tahu bagaimana suasana saat adanya kerajaan berkuasa? Tahukah kamu bahwa gaya rumah era dulu dan sekarang sangat berbeda gayanya? Nah, kali ini ada bahasan mengenai permukiman yang disulap menjadi rumah pada salah satu zaman kerajaan terbesar di Jawa Timur, yaitu Majapahit.

Konon katanya, belum ada kejelasan mengenai hilangnya Kutaraja. Kutaraja ialah Ibukota Majapahit kala itu. Kutaraja diketahui hilang lenyap tanpa ada yang tahu penyebab pastinya. Dilansir JawaPos, ada beberapa penyebab yang mengudara di telinga-telinga orang mengenai hilangnya Ibukota Majapahit yang misterius ini.

Dari kacamata kalangan ilmiah, invasi Kerajaan Demak Bintara memancing peperangan dengan sentimen agama. Perangnya begitu besar hingga seluruh bangunan hancur tak berbentuk. Adapula yang berpendapat bahwa terjadi bencana alam yang sangat mengguncang hingga membuat sebagian besar Kutaraja menghilang. Hal lain yang katanya menjadi penyebab hilangnya Kutaraja adalah adanya gempa dan letusan Gunung Kelud setiap pergantian kekuasaan. Hal ini terlampir pada Kitab Pararaton. Saat pemerintahan Hayam Wuruk, Kelud sudah meletus sebanyak delapan kali.

Banyaknya alasan, dari perang hingga bencana alam, maka tak heran bila infrastruktur Kutaraja hilang tak tersisa kecuali candi. “Candi memang dibangun dengan konstruksi masif. Tebal batanya saja berapa?” kata Setia Budhijanto, Arsitek dengan pengalaman selama 30 tahun yang memiliki minat pada arsitektur Majapahit, kepada JawaPos. Karena hilangnya yang misterius itu, diadakan penelitian untuk mengetahui bagaimana sebenarnya bentuk Kutaraja. Penelitian dilakukan dengan teknologi modern dan spiritual.

Baca juga :  Perpustakaan Rumah Tingkatkan Minat Baca

Arsitek dan Arkeologi asal Belanda, Henri Maclaine Pont, mencari tahu informasi tentang Trowulan pada 1924. Setelah berhasil meneliti selama dua tahun, dihasilkan peta sketsa Kutaraja yang kemudian dipakai untuk seluruh riset mengenai Majapahit. Dari peta sketsa ini, dihasilkan pemetaan wilayan keraton, bentuk jalan, sistem kanal, tembok pertahanan, tata bangunan, serta rumah warga kota.

Di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, ditemukan berbagai peninggalan dan reruntuhan Majapahit. Desa ini juga disebut sebagai Kampung Majapahit karena dipenuhi sisa bangunan, tembok kuno, batu-batuan kuno, sampai tata letak bangunan-bangunan yang sudah tua. Kampung Majapahit ini tidak sulit ditemukan lantaran ada di pinggir jalan utama yang menghubungkan Mojokerto dan Jombang.

© Antara/Syaiful Arif

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengubah rumah warga di Desa Bejijong menggunakan model bangunan pada zaman Majapahit. Pada portal tempo.co, dijelaskan bahwa pembangunan ini memiliki dua tahap. Tahap pertama pada 2014 sebanyak 94 unit rumah, tahap selanjutnya pada 2015 sebanyak 100 unit rumah. Dana yang dikeluarkan sebesar Rp 4,98 miliar dan Rp 5,7 miliar.

Lalu dibuat lagi tahap ketiga dengan membangun 300 unit rumah lagi. Rumah dibangun dengan ukuran 3×5 meter atau 4×4 meter dengan biaya Rp 50-60 juta per unitnya. Seluruh desa ini memang akan dibangun seperti ala Majapahit pada masanya. Jatipasar, Sentonorejo, Temon, serta Kraton menjadi proyek baru untuk membangun rumah kawula (rakyat biasa) di Kutaraja.

Selain warna temboknya yang merah, rumah ini dibuat mirip pendopo dengan empat tiang kayu penyangga. Batu sungai yang ditutup dengan batu berwarna merah marun menjadi bagian lantainya. Lalu atap rumah dibuat seperti limas segitiga memanjang dan ada pintu masuk yang terdiri dari dua pintu kembar. Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Andi Muhammad Said berkata, “Hanya saja atap yang ada sekarang sudah menggunakan desain modern. Sementara untuk rumah Majapahit zaman dulu biasanya modelnya menggunakan atap sirap.”

Baca juga :  Gemerincing Cara Jaga Wallpaper Dinding
© Antara/Syaiful Arif

Pembangunan rumah kawula ala Kutaraja memang masih diperdebatkan lantaran tidak ada kepingan sisa peninggalan rumahnya. Namun dari paparan Pupuh VIII sampai XII Kakawin Negarakertagama bahwa Kutaraja itu kota yang dikelilingi tembok batu merah, tebal, dan tinggi. Setia Budhijanto juga memaparkan bahwa rumah jaman Majapahit hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dan isinya sebatas kamar tidur serta tempat menyimpan barang. Hal itu menyebabkan bentuk rumah Majapahit kecil. Salah satu tipe rumah kawula berhasil dibentuk ulang melalui sebuah penelitian. Tapi tidak ada satupun (tokoh, pejabat, dan seniman yang ditemui JawaPos) yang mampu menjelaskan makna dari setiap sudut rumah.

Penjelasan mengenai makna malah datang dari warga asli Trowulan, Rifai. Dengan lancar, Rifai menjelaskan filosofi tiap bagian rumahnya yang memang paling mencolok lantaran dihiasi banyak aksesoris seperti celengan babi dan ular naga. Penjelasan dari Rifai tidak dimiliki oleh para ilmuwan. Ia memaparkan banyak hal dari lantai sampai perhiasannya.

Desa Bejijong atau Kampung Majapahit ini akan semakin terasa suasananya karena warganya juga melakukan aktivitas layaknya pada zaman Majapahit. Warga yang tinggal di sini kebanyakan bekerja sebagai pengrajin batik tulis khas Majapahit dan patung tanah liat. “Dari ciri khas yang ada, batik Majapahit hampir sama dengan batik yang ada di Yogyakarta. Di mana warna dominan batiknya yaitu coklat muda dan biru,” tutur Sri Mujiatim pada Brilio, salah satu pengrajin batik pertama di Kampung Majapahit ini.

2 pemikiran pada “Jalan-Jalan ke Permukiman Zaman Majapahit di Trowulan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *