Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Benarkah Tata Letak Jadi Pengaruh Kebiasaan Masyarakat Suku Tengger?

Source : antarafoto.com

 

Indonesia memiliki struktur topografi  yang bermacam – macam inilah yang membuat kebiasaan atau kebudayaan yang berbeda menimbulkan sosial budaya baru. Masyarakat yang berada di dataran rendah kebiasaan dan kebudayaannya tentu berbeda dengan masyarakat yang berada di dataran tinggi. Perbedaan terjadi disebabkan karena penyesuaian masyarakat terhadap keadaan topografinya. Topografi yang berbeda ini juga menimbulkan beberapa dampak. Orang yang tinggal di dataran tinggi membutuhkan baju yang tebal agar tidak kedinginan begitu juga sebaliknya, masyarakat yang tinggal di dataran rendah tidak membutuhkan pakaian tebal karena adanya perbedaan suhu. Contohnya saja di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Tempat tinggal masyarakat Tengger berada di daerah topogarfi dengan kelerengan yang curam. Masyarakat suku Tengger Bromo memiliki pekarangan rumah yang asri dengan ditanam berbagai tanaman khas Bromo. Setiap rumah di kawasan Bromo memiliki pekarangan yang dijadikan kebun. Tanaman yang di pekarangan tersebut ditanam oleh tanaman pangan seperti kentang, kubis, wortel, tomat, bawang, tembakau, dan lainnya. Masyarakat suku Tengger menjadikan perkebunan tersebut sebagai mata pencaharian. Hampir semua masyarakat Tengger memiliki pekarangan yang dijadikan kebun. Ada yang di depan, di samping, maupun di belakang rumahnya yang dijadikan perkebunan. Masyarakat dapat memanfaatkannya menjadi lahan pertanian dengan bentuk pengolahan dan pola penanaman yang sesuai, seperti sistem pola tanam polikultur, dengan menanam jagung di sela-sela tanaman kubis, dan membuat saluran air secara vertikal pada ladang yang curam untuk menghindari terjadinya longsor.

Baca juga :  Pola dan Tata Letak Rumah untuk Usia Lanjut
Dok. Pribadi Nia Silfiah

Dalam penelitian yang dilakukan oleh A. Tutut Subadyo, lingkungan permukiman di desa Ngadas dan Ranu Pani awalnya terbentuk dari kelompok rumah yang terletak di tengah ladang, pekarangan mereka. Pola lingkungan perumahan masyarakatnya merupakan kelompok keluarga petani di tengah tegalan pada lereng – lereng pegunungan dengan orientasi ke arah tempat-tempat sakral. Pusat lingkungan desa adalah Gunung Bromo dan pusat lingkungan perumahan adalah pundhen atau sanggar pamujan yang terletak dekat dengan perumahan. Hunian orang Tengger di Desa Ngadas dan Ranu Pani dibangun dengan letak saling berdekatan atau menggerombol pada suatu tempat, di mana tapaknya dipilih pada daerah yang datar, dekat air, atau kalau terpaksa dipilih tapak yang jauh dari gangguan angin dan dapat dibuat teras berundak. Bangunan rumah orang Tengger di Desa Ngadas dan Ranu Pani dahulunya memiliki ukuran yang cukup luas karena saat itu rumah dihuni oleh beberapa keluarga bersama-sama. Tiang dan dinding rumahnya terbuat dari kayu dan atapnya terbuat dari bambu yang dibelah. Sekarang bahan bangunan itu mulai sulit diperoleh, sehingga dewasa ini mereka mengubah kebiasaan itu dengan menggunakan atap dari seng, asbes, atau genteng. Konstruksinya terbuat dari bahan kayu cemara dan atap dari alang – alang. Di dalam rumah terdapat tungku api sebagai tempat memasak dan sebagai tungku pemanas ruang di waktu malam. Zonasi pekarangan dipengaruhi oleh pemanfaatan lahan dan kondisi sosial-kultural pemiliknya. Pembagian tata ruangnya dikelompokkan menjadi zona depan, samping (kanan dan kiri), serta belakang. Eksistensi zonasi ini sangat bervariasi di setiap pekarangan dan tergantung pada posisi rumah.

Baca juga :  Perpustakaan Rumah Tingkatkan Minat Baca
instagram @bleste_outdoor_4dventure

Dilansir dari netralnews.com, dalam mendesain rumah adat orang Tengger sangat memperhatikan lokasi / lahan / site / tapak untuk membangun rumah tersebut. Rumah adat Tengger terdapat di lokasi yang dekat dengan air serta tidak berkontur alias tanah datar / rata. Dalam konsep pemilihan lokasi rumah adat Tengger diprioritaskan untuk mempertimbangkan arah angin, sebisa mungkin lokasi rumah harus jauh dari gangguan angin. Ciri utama dari bentuk rumah adat suku Tengger adalah tidak bertingkat, bukan rumah panggung, strukturnya tersusun dari papan atau batang kayu, bubungan atapnya tinggi sehingga terlihat sangat terjal, hanya memiliki satu atau dua jendela saja. Tatamasa rumah di lereng Bromo, terdapat banyak rumah adat suku Tengger, rumah-rumah tersebut memiliki pola yang tidak beraturan. Rumah – rumah adat di Desa Ranu Pani ini disusun secara bergerombol, saling berdekatan, antar satu rumah dengan rumah yang lain hanya dipisahkan oleh jalur pejalan kaki yang sempit, pengaturan tatamasa bangunan yang seperti ini ialah untuk menghadapi serangan angin dan cuaca dingin yang ekstrim di lingkungan tersebut. Dengan pola tatamasa tersebut maka angin tidak bisa menerjang dan akan segera diblok oleh bangunan-bangunan rumah yang berkumpul tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *