Arsitektur dan BudayaSemua Artikel

Ketika Bangunan Menjadi Sebuah Buku Kebudayaan

Source : kompasiana.com

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar arsitektur dan kebudayaan. Apakah Anda berpendapat bahwa arsitektur dan budaya bagaikan minyak dan air yang tak pernah bisa disatukan? Jika dibenak Anda terfikirkan hal semacam itu maka Anda salah besar. Arsitektur dan budaya adalah hal yang berhubungan secara tidak langsung. Bagaikan secangkir kopi yang dinikmati di sebuah pegunungan dengan pemandangannya yang cantik akan memunculkan pesona tersendiri ketika kita menikmati kopi tersebut. Hal itu juga yang akan kita dapatkan ketika menggabungkan unsur kebudayaan dengan arsitektur. Arsitektur akan bisa bercerita banyak mengenai kebudayaan tersebut sehingga memunculkan sebuah kesan, pengetahuan dan pesona baru yang bisa kita nikmati.

Sebelum masuk terlebih jauh kita harus harus mengenal apa itu kebudayaan. Secara garis besar kebudayaan adalah segala hal yang berkaitan dengan akal manusia sebagai makluk sosial yang berfungsi untuk memahami dan menafsirkan lingkungan yang ia hadapi. Banyak sekali macam – macam kebudayaan, terkhusus lagi di Indonesia yang memiliki beragam suku dan kebudayaan. J.J Hoenigman membedakan kebudayaan menjadi tiga, yaitu gagasan (wujud ideal), aktivitas (tindakan), dan artefak (karya). Jika dilihat dari tiga macam kebudayaan yang diungkapkan oleh Hoenigman, pada kebudayaan artefak (karya) di situlah titik temu antara arsitektur dengan kebudayaan.

Ketika sebuah kebudayaan digabungkan dengan arsitektur, akan muncul nilai – nilai baru dalam sebuah bangunan yang diciptakan. Bangunan bukan hanya berfungsi sebagai tempat untuk melakukan aktivitas manusia lagi, namun bangunan tersebut menjadi memiliki nilai histori, simbol dan pengetahuan yang tinggi mengenai kebudayaan tersebut.

Baca juga :  Atap Mansard untuk Negeri Bersalju

Ketika Anda melihat sebuah bangunan dengan tanda salib terpampang pada bangunan tersebut, maka Anda akan berasumsi bahwa bangunan tersebut merupakan tempat ibadah bagi umat kristiani. Namun bagaimana ketika Anda melihat sebuah masjid dengan gaya arsitektur kebudayaan Tionghoa, padahal mayoritas masyarakat china memegang ajaran Hindu Budha, dan masjid itu berdiri di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk Islam. Sesuatu yang unik dan menarik bukan, itulah yang disebut arsitektur bisa menjadi sebuah simbol ketika digabungkan dengan budaya.

Masjid Cheng Ho Surabaya – instagram @wahyu_ajak

Masjid yang kita bahas tadi adalah Masjid Cheng Ho. Masjid ini berdiri di beberapa tempat di daerah Jawa, salah satunya berada di Surabaya. Dengan memberikan sedikit sentuhan kebudayaan Tionghoa pada arsiteknya, membuat masjid ini sangat unik. Dengan latar belakang dibangunnya masjid ini untuk menghormati seseorang yang bernama Laksamana Cheng Ho, seseorang yang menyebarkan islam melalui jalur perdagangan. Dengan konsep gaya arsitektur mengusung kebudayaan Tionghoa, dengan maksud untuk menghormati tempat asal dari Cheng Ho. Hal ini justru menjadikan daya tarik tersendiri ketika kita mengunjungi masjid ini. Selain itu gaya arsitek Tionghoa juga menjadi histori sejarah tersendiri ketika kita menguliknya. Bahkan karena gaya arsiteknya yang unik masjid ini dijuluki sebagai simbol perdamaian antara umat beragama.

Contoh lainnya adalah rumah adat joglo. Rumah Joglo adalah rumah adat khas masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah. Rumah adat ini jika kita kulik lebih dalam bukan hanya sebuah rumah khas masyarakat Jawa. Namun dari rumah ini kita bisa mendapatkan pengetahuan bagaimana kebudayaan masyarakat jawa. Masyarakat Jawa memiliki kebudayaan bersilaturahmi yang sangat erat. Kita lihat, Rumah Joglo identik dengan halaman depan dan pendapa (pendopo) yang sangat luas. Salah satu fungsinya adalah sebagai sarana silaturahmi dengan keluarga lain atau masyarakat sekitarnya.

Baca juga :  Tanaman Dalam Ruangan, Bagus Untuk Kesehatan dan Pemandangan
Rumah adat Joglo khas masyarakat Jawa. (Sumber www.wovgo.com)
Halaman depan dan pendapa dari rumah joglo (sumber www.bombastis.com)

Masyarakat Jawa pada zaman dahulu juga sangat mengsakralkan gunung, salah satu alasannya karena masyarakat Jawa percaya bahwa gunung merupakan tempat tinggal para dewa. Kita lihat pada rumah adat Joglo bentuk atapnya adalah tajug (atap berbentuk piramidal), di mana pemilihan atap ini karena bentuknya yang paling mirip dengan gunung. Pemilihan bentuk atap seperti gunung ini dengan tujuan dan harapan supaya rumah ini dan pemiliknya selalu dilindungi oleh dewa yang tinggal di gunung.

Dari beberapa contoh di atas, bisa dipahami bahwa arsitektur bukan hanya sebuah bangunan yang tidak memiliki arti. Ketika arsitektur dikombinasikan dengan kebudayaan masyarakat sekitar, bangunan tersebut memiliki nilai tersendiri. Bangunan tersebut seolah – olah menjadi sebuah buku tentang kebudayaan. Bangunan tersebut bisa bercerita tentang bagaimana masyarakat di sekitar bangunan tersebut hidup, kepercayaan, sejarah dari masyarakat di sekitar. Semua itu bisa kita kulik dari bangunan itu saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *