ReviewSemua Artikel

Berkunjung ke Masjid Cheng Ho dan Menengok Keindahan Arsitektur yang Melambangkan Perbedaan

Source : pegipegi.com

Islam adalah agama dengan berbagai macam bentuk masjid. Biasanya bentuk fisik sebuah masjid tergantung pada kondisi sosial budaya masyarakat sekitar. Selain itu, masjid tidak hanya sekedar menampilkan estetika bangunan. Namun, juga menampilkan sebuah identitas serta menjadi aktivitas pariwisata religius. Bentuk bangunan masjid yang memiliki simbol unik dan memiliki ciri khas tersendiri tentu sangat menarik masyarakat untuk berkunjung. Masjid Cheng Ho salah satunya.

Masjid Cheng Ho Surabaya dibangun pada 10 Maret 2002 dengan luas 231 meter. Dilansir dari detikcom, masjid ini dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Ho, salah satu muslim China yang menyebarkan agama islam melalui perdagangan. Mengapa Surabaya? Surabaya ini pernah menjadi tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho dalam menyebarkan agama islam sebelum melanjutkan ke Kota Majapahit Mojokerto. Masjid Cheng Ho ini juga merupakan masjid pertama yang menggunakan nama Tionghoa yang berada di Indonesia. Waktu saya berkunjung ke masjid Cheng Ho, bangunan masjid mirip bangunan klenteng yang ternyata memiliki makna tersendiri. Seperti yang dikatakan Eko Crys Endrayadi pada Jurnal yang ia tulis, masjid ini dibentuk seperti klenteng karena sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho yang membawa misi perdamaian dan taat beribadah.

Masjid Cheng Ho ini terinspirasi dari Masjid Niu Jie di Beijing yang didesain oleh Arsitektur ternama yaitu Abdul Aziz. Memiliki pintu utama berbentuk seperti pagoda dengan nuansa Timur Tengah dan tembok nuansa Jawa. Perpaduan budaya yang sangat unik dan menarik. Di atap masjid dihiasi dengan kaligrafi yang sangat cantik serta memiliki atap berbentuk persegi delapan bertingkat tiga yang merupakan hasil adopsi dari budaya Hindu Budha. Mengapa angka delapan? Menurut wego.co.id angka delapan dipercaya sebagai angka keberuntungan bagi warga China. Tidak hanya itu, pada bagian serambi terdapat lima anak buah tangga yang melambangkan jumlah rukun islam. Sedangkan di dalam masjid enam anak tangga yang melambangkan rukun iman.

Baca juga :  Menelusuri Masjid Peninggalan Sejarah di Kota Serambi Mekkah
(c)instagram.com/desainislam

Bagian menarik lainnya, jika berkunjung ke masjid ini, pengunjung akan disuguhkan dengan keindahan warna dari masjid Cheng Ho. Warna cat nya yang ikonik membuat masjid ini terlihat lebih menawan. Terdiri dari warna merah, biru, kuning dan hijau. Keempat warna ini ternyata memiliki arti kebahagiaan, kemasyhuran, harapan dan kemakmuran seperti yang tercatat pada wego.co.id. Masjid yang terletak di Jalan Gading No. 2a, Keluarahan Ketabang, Kecamatan Genteng, Surabaya ini juga memiliki relief yang bernama Muhammad Cheng Ho lengkap dengan kapal yang digunakan saat mengarungi Samudera Hindia. Relief ini di buat sebagai pengingat kepada umat islam yang berkunjung agar selalu rendah hati saat menjalani hidup sehari-hari. Hal lain yang menggambarkan toleransi antar agama yaitu pintu ruangan imam shalat dan membaca khutbah dibentuk mirip dengan pintu gereja.

Ketika kalian memasuki kompleks masjid Cheng Ho ini, kalian juga akan menemukan kantor, Taman Kanak-kanak dan juga lapangan. Di kompleks ini juga menerima warga yang ingin kursus bahasa Mandarin. Sehingga lingkungan masjid ini memiliki banyak manfaat untuk warga sekitar, yang tidak hanya sebatas ibadah. Namun, juga menjadi tempat belajar untuk mereka. Saat menjelang idul fitri tiba, masjid ini digunakan sebagai kegiatan sosial seperti pembagian sembako.

Baca juga :  Istiqlal, untuk Muslim Tawakal

Masjid Cheng Ho ini tidak hanya terdapat di Surabaya saja. Masjid Cheng Ho juga berada di kota lain di Indonesia yaitu di Palembang dan Pasuruan. Namun, jika kalian ingin berkunjung ke Masjid Cheng Ho Surabaya, aksesnya cukup mudah. Untuk menuju kesana, kalian bisa melewati Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, setelah melewati makam ini, kalian akan sampai di area gedung serba guna Piti Jawa Timur dan kalian akan menemukan masjid dengan arsitektur megah tersebut. Masjid penuh sejarah dan filosofi ini juga dekat dengan Balaikota Surabaya, kurang lebih satu kilometer dari balai kota.

Jika berkunjung ke masjid ini, untuk sekedar shalat dalam menggugurkan kewajiban dan mendekatkan diri pada Allah. Kita juga bisa menikmati keindahan arsitektur masjid ini dan mengetahui hal-hal baru yang mungkin selama ini tidak kita ketahui. Selain itu, kita juga bisa belajar toleransi antar agama dan budaya melalui bangunan masjid ini yang menggambarkan akulturasi budaya dan agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *